Sunday, May 17, 2009

Diglossia: Tinggian siapa se?

Gambar ini adalah foto dua nama jalan di dua kota yang berbeda. Bisakah menebak di kota mana saja? Jend. Sudirman dan Diponegoro memang sangat populer sebagai nama jalan di Indonesia. Yang pasti keduanya dari kota di Jawa. Hanya saja dua kota itu punya attitude yang berbeda terhadap bahasa Jawa. Yang satu menganggap bahasa Jawa bernilai dan yang satunya mungkin tidak menganggap penting.

Nah DIGLOSSIA tuh keberadaan dua variasi bahasa dalam satu speech community. Satunya dianggap sebagai high variety (H) dan yang lain dinggap low variety (L). Diglossia sih biasanya bisa diartikan sempit sebagai dua variasi dari bahasa yang sama. Sedangkan kalau arti luas bisa dua bahasa yang sama sekali berbeda. Nah yang mempopulerkan ini sebenarnya sih si Ferguson (1956) [bukan Alex Ferguson MU]. Dia mengutak-atik bahasa Arab dan menemukan bahwa ada dua varian dari bahasa Arab yaitu yang klasik dan yang dipakai sehari-hari. Yang dipakai sehari-hari dan yang klasik punya fungsi yang beda.

Contoh yang gampang sih kayak Bahasa Indonesia standar dan dialek Betawi. BI standar dipakai di TV, koran, sastra dsb. Dialek Betawi hanya untuk ngobrol-ngobrol saja kan. Nah coba kalau puisi Chairil Anwar ditulis pakai dialek Betawi...pasti banyak yang protes.

“Kalau sampai waktuku/ ku mau tak seorang kan merayu" (Anwar,
…)
"Kalo waktu gue dah nyampe/gue gak mau loe atau nyang laen
ngerayu"
Arti diglossia yang lebih luas adalah dua bahasa ada dalam satu speech community. Contohnya hampir di semua tempat di Indonesia. Misalnya di Bali pasti ada Bahasa Bali dan Bahasa Indonesia; di Madura; di Jawa; di Sunda, bahkan di banyak tempat jadi polyglossia. Kayak di Batak misalnya ada Batak Toba, Batak Karo, dan Bahasa Indonesia. Di daerah perbatasan dua speech community misalnya antara Jateng dan Jabar pasti ada Bahasa Sunda, Jawa, dan Indonesia. Belum lagi ditambah Bahasa Inggris, China, dan Arab. Gak percaya? Ambilah sebungkus mie instant. Lihat kemasannya... instruksinya Bahasa Indonesia dan Inggris, halal-nya tulisan Arab, merk tertentu ada tulisan Chinanya.

Toleh kanan...toleh kiri....baca-baca....polygossic banget ya?

Nah kalau masalah H dan L tadi itu tergantung pada attitudes pemakai bahasa. Orang Bali misalnya (Jody, Verdi, Putu (07)(05)) kalau ditanya tinggian mana Bahasa Indonesia dan Bahasa Bali. Pasti jawabnya gak sama. Orang Jawa, Sunda, Tionghoa, Batak, dll pasti juga bingung, karena emang attitude terhadap bahasa sering ambivalen...plin-plan dan gak jelas. Rapat RW di Kotabaru pakai Bahasa Indonesia, karena dianggap H dan Bahasa Jawa dianggap L, tapi di Kadipaten Kidul rapat RWnya pakai Bahasa Jawa, karena Bahasa Jawa H dan Bahasa Indonesia L.


Lihat lagi bungkus mie instannya. Ikuti instruksinya...tambah telor....selamat makan.

5 comments:

  1. terima ksh comment'na, Pak..
    oh ya itu dkota mana y,pak?saya buta arah..he..he..

    ReplyDelete
  2. wahhhh.... cooollllll... mantap... tengkyu pak... baru saya ngerti diglossia...

    ReplyDelete
  3. if someone were tell you that diglossia is a simple reflection of the social cultural, or political oppression of a people,how might you answer?

    ReplyDelete
  4. kok g bs dbagikan k fb??

    ReplyDelete
  5. ok sekarang saya mengerti yang dimaksud diglossia..... :)

    ReplyDelete